Posted on Nov 29, 2007 under HomeSchooling, Rumahku Sekolahku |
Orang tua harus berkaca diri dulu sebelum menyelenggarakan sekolah rumah bagi sang buah hati.
Homeschooling (sekolah rumah) saat ini mulai menjadi salah satu pilihan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orang tua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya. Bisa juga karena orang tua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.
Sekolah rumah, menurut Ella Yulaelawati, direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga di mana proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif.
Tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama dikemukakan oleh Dr Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, saat keduanya tampil berbicara dalam sebuah seminar di Jakarta, Sabtu (22/7) lalu.
Pembelajaran kreatif
Ella mengakui, ada beberapa alasan orang tua di Indonesia memilih sekolah rumah. Antara lain, dapat menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, memberikan lingkungan sosial dan suasana belajar yang baik, dan dapat memberikan pembelajaran langsung yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.
Menurut Seto, sekolah rumah memiliki keunggulan karena bimbingan dan layanan pengajaran dilakukan secara individual. Proses pembelajaran lebih bermakna karena terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, waktunya pun lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kesiapan anak dan orang tua.
Seto mengatakan, menyelenggarakan sekolah rumah menuntut kemauan orang tua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusias belajar anak. Sekolah rumah juga memerlukan kesabaran orangtua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan.
Seto menampik sejumlah mitos yang dinilainya keliru tentang homeschooling selama ini. Misalnya, anak kurang bersosialisasi, orang tua tidak bisa menjadi guru, orang tua harus tahu segalanya, orang tua harus meluangkan waktu 8 jam sehari, waktu belajar tidak sebanyak waktu belajar sekolah formal, anak tidak terbiasa disiplin dan seenaknya sendiri, tidak bisa mendapatkan ijazah dan pindah jalur ke sekolah formal, tidak mampu berkompetisi, dan homeschooling mahal. `’Itu keliru,” ucapnya.
Teman belajar
Lalu, apa yang yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menyelenggarakan sekolah rumah? Seto mengatakan, orang tua harus menjadikan anak sebagai teman belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. `’Orang tua harus memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini,” tuturnya.
Anak, kata Seto, perlu bermain. Itu yang perlu dipahami oleh orang tua. Karena itu pula, orang tua tidak boleh arogan dengan menempatkan diri sebagai guru, tapi belajar bersama. Kalau tidak siap dengan itu, menurut Seto, lebih baik jangan menyelenggarakan sekolah rumah.
Orang tua, kata Seto lagi, tetap perlu terus menambah pengetahuan. Tidak mesti menguasai semua jenis ilmu. Yang penting, memiliki pemahaman tentang anak. Bila orang tua kurang mengerti pelajaran biologi atau matematika, misalnya, orang tua bisa mendatangkan guru untuk pelajaran tersebut dan belajar bersama anak. Dengan demikian, anak akan merasa tidak lebih rendah, tapi sebagai sahabat dalam belajar.
Bagaimana dengan kedua orang tua yang bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk memberikan pembelajaran kepada anak dalam menyelenggarakan homeschooling? Seto mengatakan, itu tidak boleh menjadi alasan.
Sesibuk apa pun orang tua, tetap harus punya waktu untuk anak. `’Kalau tidak punya waktu, jangan punya anak,” ucap psikolog yang juga menyelenggarakan homeschooling bagi anak sulungnya itu.
Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional. Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu pula. Standar kompetensi ini, kata Seto, dapat diperoleh di Dinas Pendidikan yang ada di daerah masing-masing.
Evaluasi bagi anak yang mengikuti homeschooling dapat dilakukan dengan mengikutkan pada ujian Paket A yang setara dengan SD atau Paket B setara SMP. Pada dasarnya, kata Seto, dapat pula dilakukan dengan menginduk ke sekolah formal yang ada untuk proses evaluasi. Menurut dia, harusnya ini bisa dilakukan karena sekolah rumah bukan sekolah liar. Homeschooling seusai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). (-bur)
Sumber : Republika
Posted on Nov 29, 2007 under HomeSchooling, Rumahku Sekolahku |
Belajar di rumah lebih relaks dibandingkan dengan belajar di sekolah. Bagaimana hasilnya ?
Hampir seratus tahun lampau Rabindranath Tagore, peraih Nobel Sastra tahun 1913, menyelorohkan ucapan bernada pahit itu. “Sekolah adalah siksaan tak tertahankan.” Dan Tagore tak keliru.
Di Indonesia, mungkin juga tempat lainnya, serapah Tagore telah mewujud sejak lama. Ketika siksaan seolah tak tertahankan, maka sekolah dan ‘penjara’ bagai dua entitas yang sulit dibedakan.
Tapi siapa bilang sekolah selamanya harus seperti ‘penjara’? Bagi Ratna Megawangi ‘penjara’ itu harus dirubuhkan. Tak tega melihat anaknya stres akibat banyaknya pekerjaan rumah, dan buntutnya jadi kehilangan semangat belajar, Ratna mengambil langkah berani.
Dikabulkannya keinginan si anak, yang saat itu kelas satu SMA, keluar dari sekolah. Lantas, Ratna pun membangun sendiri ’sekolah’ di rumahnya yang asri. Didatangkannya guru privat jempolan.
Sejak saat itu si anak belajar di rumah. Tak lagi ada mata pelajaran yang padat, penyajian materi yang membosankan, atau bangku kelas yang keras. Kini ia bisa berselonjor di atas karpet, sambil menyimak uraian matematika, fisika, atau Bahasa Inggris bak dendangan dawai yang menenangkan.
Dan perubahan itu tampak jelas. “Ia tampak bahagia sekali, gairah belajarnya malah jadi menggebu-gebu. Anehnya, jika sewaktu di sekolah ia tidak mahir berbahasa Inggris, kini setelah belajar di rumah ia fasih berbahasa Inggris dalam tempo cepat,” tutur Ratna yang istri Menkominfo Sofyan Jalil itu, Kamis (5/5).
Seperti Ratna, Yayah Komariah SPd, seorang mantan guru SD, juga mengambil langkah berani itu. Rumahnya di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kini tak lagi sekadar menjadi tempat tidur atau makan bagi anak-anaknya, tapi sekaligus tempat belajar.
Setiap pagi, empat anaknya (kelas 1 dan 2 SD serta setingkat TK) tak berangkat ke sekolah seperti lazimnya anak-anak seusia mereka. Alih-alih berpanas-panasan ikut upacara bendera, mereka malah berselonjor bebas di ruang tengah rumahnya, sembari menyimak ocehan sang guru. Pengajarnya? Tak lain sang ibu mereka, Yayah, yang berpengalaman jadi guru SD selama 10 tahun.
Bagaimana Yayah menyelenggarakan pendidikan di rumahnya? Kurikulumnya, kata Yayah, tetap berbasis kurikulum nasional, namun dengan inovasi di sana-sini, terutama porsi praktik dan mobilitas yang diperbanyak. Betapa cerianya Yayah dan anak-anaknya.
Untuk mengajarkan materi transportasi, misalnya, si anak -beserta enam anak lain tetangganya- harus turun langsung ke jalan. Semua alat transportasi dijajal, dari ojek motor, kereta api, hingga busway.
Lantas mereka diminta menceritakan pengalamannya itu dalam bentuk narasi, sekaligus belajar Bahasa Indonesia. Mereka disuruh menghitung jumlah roda bus Transjakarta, sekaligus belajar matematika.
“Kegiatan belajar dibuat fun. Mereka juga langsung bersentuhan dengan realitas, sehingga bukan melulu teori. Ini membuat mereka lebih ceria dan menjadi lebih kreatif. Potensinya mereka bisa dimunculkan,” tutur Yayah.
Bukan cuma Ratna atau Yayah, psikolog kondang, Dr Seto Mulyadi, termasuk yang setuju betul terhadap metode homeschooling alias belajar di rumah itu. Beberapa waktu ini, anak Seto yang setingkat SMA, tak lagi belajar di sekolah umum melainkan menjadi homescholler. “Sekarang dia malah akan mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta,” paparnya.
Bangkitkan potensi
Inilah tren pendidikan anyar di Indonesia, yang boleh dibilang antitesis terhadap metode pendidikan konvensional yang terbilang ‘gagal mencerahkan’. Seringkali anak malah gagal mengembangkan potensinya.
“Berapa banyak anak yang sewaktu kecil tampak semangat belajar, namun ketika masuk ke sekolah malah jadi pemalas dan pemalu. Padahal mereka punya hak untuk berkembang,” tutur Seto di sela-sela pendeklarasian Asosiasi Homeschooling dan Pendidikan Alternatif (ASAH PENA) di Jakarta, Kamis (5/5).
Keluhan terhadap sistem pendidikan di negeri ini memang seabrek. Jam mata pelajaran yang melimpah, adalah salah satu alasan murid menjadi luar biasa jenuh. Jika UNESCO menyaratkan 800-900 jam pelajaran per tahun untuk SD, Indonesia malah memberlakukan 1.400-an jam per tahun. Sekolah tak lagi menyenangkan.
Belum lagi cara penyampaian yang kurang kreatif, otoriter, atau pekerjaan rumah yang segudang. “Pembelajaran otoriter (murid harus bisa semua pelajaran) seringkali membuat sekolah menjadi beban. Padahal, jangan sampai anak layu sebelum berkembang,” papar Ratna.
Di homeschooling, pendekatan yang diberikan adalah sebaliknya. Siswa tidak dipaksa harus mampu di satu mata pelajaran, seperti matematika, misalnya. Jika dia berbakat di bidang lain, seperti bahasa, maka itulah yang harus dikembangkan.
Setiap anak, kata Seto, unik. Karena itulah, di homeschooling yang diterapkan adalah pendekatan individual. “Ini justru lebih dapat membangunkan potensi mereka. Ini kelak membuat konsep diri yang positif pada si anak,” paparnya.
Seto, yang melakukan homeschooling, menyatakan bahwa materi kurikulum seratus persen mengacu pada kurikulum nasional yang mencakup lima materi. Yakni iptek, kewarganegaraan, keolahragaan, etika, dan estetika. “Hanya, metodenya berbeda. Sekolah dibuat seperti tamasya yang menyenangkan,” kata dia.
Saat ini Seto tengah berjuang agar Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengeluarkan standar minimal homeschooling di Indonesia. Maksudnya supaya metode ini memperoleh pengakuan yang lebih besar.
Menurut Seto, program homeschooling bukanlah barang baru. Banyak tokoh dunia yang berangkat dari model pendidikan seperti begini. Sebut saja mantan presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln dan Theodore Roosevelt, Alexander Graham Bell (penemu telepon), atau pahlawan nasional KH Agus Salim. Siapa bilang sekolah formal jalan satu-satunya buat pintar?
Ikhtisar :
- Daripada anak tersiksa di sekolah, orang tua menyilakan anaknya berhenti bersekolah.
- Dengan bimbingan orang tua, anak belajar di rumah dengan materi berdasarkan kurikulum nasional.
- Ratna Megawati dan Seto Mulyadi termasuk orang tua yang mengajar anaknya di rumah.
- Murid sekolah rumah boleh ikut ujian persamaan.
Orang Tua Harus Kompeten
Menurut Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas, Ella Yulailawati, homeschooling sudah diatur dalam UU Sisdiknas, dan dikategorikan dalam jenis pendidikan informal atau nonformal. Peserta, menurut dia, dapat mengikuti ujian kesetaraan lewat ujian paket A, B, atau C.
Hanya, menurut dia, perlu ada verifikasi apakah sang pengajar benar-benar kompeten untuk menggantikan materi belajar di sekolah biasa. Selain itu, Depdiknas juga perlu tahu komitmen si orang tua untuk dapat menyajikan pendidikan berkesinambungan buat anaknya (letter of comitment).
Hingga akhirnya mengikuti ujian keseteraan, hasil pendidikan si anak perlu dilaporkan secara rutin kepada dinas pendidikan setempat. “Kita sedang buat aturan petunjuk pelaksanaannya, termasuk supaya si anak tidak perlu ikut kegiatan belajar mengajar di kejar paket A, B, dan C, seperti aturan saat ini,” kata Ella.
Meski mengandung sejumlah keunggulan, menurut Ella, homeschooling juga memiliki beberapa kelemahan. “Dengan belajar di sekolah umum, kita bertemua banyak orang dan realitas sesungguhnya. Itu unik, dan si anak diajarkan untuk berkompetisi sejak awal,” paparnya. (imy )
Sumber : Republika
Posted on Nov 29, 2007 under HomeSchooling, Rumahku Sekolahku |
” Sekolah di rumah kedengarannya nyantai. Ternyata memang perlu alasan khusus untuk ikutan sekolah model gini. Kayak apa dan di mana aja sih sekolahnya ?
Pernah ada model cantik curhat. Katanya dia kadang enggak mampu mengikuti jadwal sekolah reguler yang bikin mumet. Soalnya, jadwal kariernya sebagai model juga enggak kalah padat. Bayangin aja, pemotretan atau syuting sinetron bisa menyita waktunya sampai larut malam, bahkan kadang sampai subuh. Akhirnya jadwal padat itu sering banget membuatnya nyerah bersekolah besok paginya.
“Aku sering enggak kuat bangun pagi. Akhirnya sering bolos. Susahnya, peraturan sekolah ketat banget. Jadi aku akhirnya keluar dari sekolah itu. Jujur aja, sekolahku yang sekarang lebih longgar untuk urusan absensi,” keluhnya. Akhirnya, sampai sekarang dia pun bertahan di sana dengan absensi yang bolong-bolong. Repot juga ya?
Sayang, si teman yang berprofesi sebagai model profesional tadi enggak tau soal adanya pendidikan luar sekolah yang bisa membantunya tetap bersekolah dengan benar. Coba dia kenal sama Dominique, model yang pernah jadi juara pertama Ajang Ajeng besutan MTV Indonesia. Cewek manis berkaki jenjang ini pernah ngalamin yang namanya susah ngatur jadwal.
Akhirnya, cewek ini pun sadar kalo udah enggak kuat ngatur jadwal sekolahnya. Dan home school langsung jadi pilihannya.
Sekolah di rumah? Nyantai dong? Nah, ini dia salahnya. Home school alias sekolah di rumah bukan berati nyantai. Justru dengan home school seorang siswa dituntut untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya. Soalnya, begitu memutuskan ikutan metode ini, kita udah harus punya jadwal sendiri untuk belajar. Kapan evaluasi dan kapan ujian. Lengah sedikit, pastinya kita ketinggalan.
Banyak Jenis
“Enaknya kalo home school itu ibarat sekolah malam. Jadi selesai gue kerja, gue tinggal belajar di rumah. Dan pelajarannya udah langsung dijurusin,” jelas Dominique waktu itu kepada Tim Muda waktu masih jadi siswi home school di Yayasan Bina Mekanika.
Yayasan pendidikan yang diikuti Dominique ternyata merupakan bagian dari program pemerintah yang disebut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Badan penyelenggaranya udah ada ratusan di Indonesia. Di Jakarta Selatan aja, ada sekitar 25 lembaga penyelenggara PKBM dengan jumlah siswa lebih kurang 100 orang. Setiap program PKBM terbagi atas Program Paket A (untuk setingkat SD), B (setingkat SMP), dan Paket C (setingkat SMA).
Tujuan program ini adalah memberikan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal. Sasaran awalnya sebenarnya ditujukan untuk masyarakat yang kurang mampu, pengangguran, atau putus sekolah. Namun, belakangan, siswa dan siswi yang ingin mendapatkan layanan pendidikan home school bisa juga mendaftarkan ke sini.
“Jadwal memang bisa disepakati bersama. Yang penting waktu tatap mukanya minimal 5 x 3 jam per minggu. Jadi, mereka bisa memanggil tutor ke rumah. Mereka juga akan dibekali modul yang harus dipelajari dan dilatih sendiri,” ujar Chris Leniaty R, SH Branch Manager PKBM.
Makanya, begitu Dominique memilih program IPS sebagai minatnya, dia langsung mendapat modul PKn, Bahasa Inggris, Sosiologi, tata negara, Sastra Indonesia, dan Ekonomi Akuntansi. Selain belajar di rumah, kadang dia juga datang untuk belajar di gedung Bina Mekanika di kawasan Kebayoran Lama.
“Enaknya lagi tuh langsung berupa latihan-latihan. Jadi memacu kita untuk cepat selesai. Sesekali, aku juga datang ke sana untuk ujian bersama atau kalo ada evaluasi,” tuturnya. Selain menawarkan program IPS, PKBM juga menawarkan program IPA dan Bahasa.
Nantinya, para siswa PKBM juga harus mengikuti ujian nasional seperti sekolah reguler. Bedanya, ijazahnya langsung dikeluarkan dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PLSP (Pendidikan Luar Sekolah Pusat).
“Ujiannya pasti terpisah. Tapi ijazahnya resmi dan sangat susah untuk penyelewengan karena dikeluarkan dari pusat. Makanya, home school ini sebenernya lebih sulit untuk lulus,” jelas Ign Doni R, SH, SE AK.
Peran Ortu
Selain PKBM, ada salah satu lembaga penyelenggara home school yang lain, namanya Morning Star Academy. Lembaga yang mengacu pada kurikulum Franklin Classical School dari Amerika Serikat ini lebih mengedepankan peran orangtua di dalam pelaksanaan home school.
“Tapi kami bukan murni home school. Sistem belajar kami tiga hari di sekolah, sisanya belajar di rumah. Nah, begitu di rumah, orangtua berperan sebagai pengontrol dan penerapan pendidikan sekolah di rumah,” ujar Ibu Lilies Tjoandi dari Morning Star.
Lembaga pendidikan Kristen ini berdiri sejak tahun 2002 dengan tujuan selain memberikan edukasi yang bertaraf internasional, juga membentuk karakter siswanya.
Siswa lembaga pendidikan ini rata-rata punya kesibukan yang luar biasa. Selain sekolah, pasti ada minimal tiga kegiatan luar sekolah. Karena enggak yakin mengimbangi jadwal sekolah yang padat, mereka pun memilih lembaga ini.
“Di sini ada atlet tenis profesional, pebasket yang punya segudang kegiatan. Tapi di pelajaran, mereka semua jempolan,” ujar Ibu Lilies.
Herman “Noel” Sinaga contohnya. Cowok berusia 17 tahun ini adalah atlet basket yang pernah memperkuat tim Aspac Junior. Selain masih sering latihan basket, dia juga latihan vokal di Institut Musik Indonesia. Tapi basketlah yang membuat dia jadi bersungguh-sungguh menjalankan home school ini.
Pasalnya dia pengin banget masuk ke klub NBA New York Knicks. So, untuk bisa masuk ke sana, dia harus tembus ke college atau universitas di New York juga nantinya. Dengan home school berkurikulum Amerika Serikat inilah, dia rela melahap semua mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Inggris, Sastra, Humanity, Science, Logic, dan Mandarin. Oh iya, semuanya dengan pengantar bahasa Inggris tentunya!
“Awalnya juga aneh. Kok ada sekolah di rumah segala. Tapi setelah dijalanin, kayaknya emang lebih bagus. Karena selain gue bisa belajar, latihan basket pun jalan terus,” ujar cowok tinggi besar ini mantap.
Untungnya, si Noel ini juga enggak lantas tergoda untuk bermalas-malasan. Soalnya, ibunya udah mewanti-wanti untuk mengikuti home school ini dengan serius.
“Begitu saatnya belajar di rumah, nyokap gue tuh udah ngasih kepercayaan ke gue. Sekalian ngontrol pelajaran gue dan bilang, percuma, katanya, kalo mau jadi atlet di Amerika kalo di sini udah enggak mau bertanggung jawab. Makanya, gue langsung enggak enaklah diomongin kayak begitu,” beber cowok berkulit gelap ini tegas.
Nah, jadi tau kan sekarang! Dengan home school tuh emang bukan lantas malah jadi nyantai. Sekolah model gini cuma alat untuk membantu kita mendapatkan pendidikan dengan nyaman di balik kegiatan kita yang superbanyak.
Toh, intinya tanggung jawab ada di tangan kita sendiri. Bisa jadi pilihan, kan?
Sumber : Yorgi Gusman Tim Muda - Kompas
Posted on Nov 29, 2007 under HomeSchooling, Rumahku Sekolahku |
Beginilah suasana ketika Deviana sedang mengajar Nindya Putri Catur Permata Sari, putri bungsunya. Istri Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi ini mendidik sendiri anak-anaknya di rumah, tidak menyekolahkan mereka di sekolah umum. Materi yang ia ajarkan kali ini adalah teori evolusi yang ditemukan oleh Charles Darwin. Suasana belajar-mengajar di rumah dibuat sangat santai, diiringi candaan dan kadang-kadang sambil menjalankan aktivitas sehari-hari. Walaupun pelajaran dibuat santai, Dea, panggilan akrab Nindya, menyimak pelajaran yang diberikan ibunya dengan antusias.
Seto Mulyadi atau Kak Seto sudah lama mempraktekkan home-schooling atau sekolah rumah bagi anak-anak. Konsep sekolah rumah memang unik. Menurut Kak Seto, keluarganya menerapkan sekolah rumah bagi anak-anaknya sejak tiga tahun lalu. Awalnya, Minuk, anak pertama, mengalami tekanan di sekolah karena dihukum gurunya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama favorit di Jakarta.
“Lalu dia menyampaikan pada ibunya. Mula-mula dipaksa ibunya. Tetapi tetap tidak mau, dan mengatakan lebih baik saya ke sekolah tapi tidak belajar, atau saya di rumah tapi saya belajar? Akhirnya, ya sudah, dengan mengingat hak anak, mengedepankan yang terbaik bagi anak, akhirnya saya beri kesempatan Minuk tetap berada di rumah. Tetapi dia menjalankan aktivitas belajarnya,” Kak Seto menjelaskan ihwal mula mempraktekkan sekolah rumah.
Menurut Kak Seto, berkat konsep sekolah rumah dengan kurikulum yang disusun bersama, motivasi belajar muncul dari dalam diri putrinya. Belajar sambil bermain, membuat anak merasa nyaman, meskipun belajar sepanjang hari.
“Anak-anak jadi senang belajar dengan motivasi internal, motivasi dari anak itu sendiri. Sehingga kegiatan home schooling ini, jika ditanya kapan belajarnya, dari bagun tidur sampai tidur lagi. Di mana belajarnya? Di mana saja! Bisa di kamar tidur, ruang tengah, kamar tamu, di halaman, atau juga di luar. Entah pergi ke sawah, ke panti asuhan, penitipan bayi-bayi telantar, sampai mungkin juga belajar di mal. Tapi yang penting, anak-anak dilibatkan untuk menyusun kurikulumnya, mencari sumber belajar,” Kak Seto menambahkan.
Bagi Dhea, belajar di rumah sangat menyenangkan. Ia mengaku ingin terus belajar di rumah sampai menyelesaikan pendidikan setara sekolah menengah umum.
“Kayaknya, seterusnya sampai SMP, SMA, sampai kapan aja gitu. Aku pingin home schooling. Soalnya waktu itu ngeliat Kak Minuk, terus jadi gimana gitu. Sekolah formal, aku takut! Kayaknya, Kak Minuk sampai stres waktu itu. Waktu kelas SMA, kayaknya, sempet stres. Terus aku nggak mau, mau terus home scholing aja,” tutur Dhea.
Bagi kebanyakan orang, menempuh pendidikan formal masih merupakan pilihan utama. Bahkan, lembaga pendidikan formal yang tergolong favorit masih jadi incaran kebanyakan siswa dan orang tua.
Vanny, misalnya. Siswa SMU 70 Jakarta Selatan ini tetap memilih belajar di sekolah formal. Bagi dia, masuk salah satu SMU favorit di Jakarta merupakan cita-citanya sejak dulu. Dengan masuk SMU favorit, Vanny berharap peluang untuk belajar di perguruan tinggi ternama akan lebih terbuka.
“Di rumah tuh gak punya temen, ya jadi gak bergaul aja. Trus biasanya kualitasnya kan beda kalau sekolah di rumah. Kalau di sekolah kan ada kurikulumnya, gitu. Kalo di rumah kan gak jelas, gitu. Gak mau karena kebanyakan sekolahnya di sekolah, bukan di rumah,” kata Vanny.
Begitu juga Danista, rekan Vanny. Dia justru menikmati belajar di sekolah formal dan mengaku bosan tinggal di rumah. Dia sama sekali tidak ingin belajar di rumah. “Ngapain di rumah juga. Di rumah bosenlah,” jelasnya.
Randi, pelajar SMU yang lain, juga demikian. Baginya, belajar di rumah bukan hal yang menyenangkan. Kata Randi, ada hal yang tidak didapat di rumahnya, yaitu pertemanan. Baginya, sosialisasi dengan teman-teman di sekolah merupakan kebutuhan yang penting.
“Belajar di rumah ya gak enak aja. Kalo di sekolah formal gini, selain belajar, kayak ada pergaulannya, gitu….” kata Randi.
Pemerintah sendiri mengakui keberadaan sekolah rumah sebagai salah satu jalur pendidikan yang sah. Menurut Direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional, Ella Yuleawati, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional membuka banyak jalur pendidikan yang bisa ditempuh, termasuk sekolah rumah.
TetapiElla juga mengingatkan, untuk menjalankan konsep sekolah rumah, orang tua harus memiliki komitmen yang kuat. Banyak orang tua yang tidak memiliki komitmen yang kuat dalam mempraktekkan sekolah rumah, sehingga tidak membimbing anaknya secara maksimal. Kesibukan orang tua juga merupakan salah satu hambatan dalam mendidik anak.
“Saya katakan, itu pendidikan informal sekolah rumah, kalau masyarakat memilih itu, apakah betul? Itu tidak mudah loh. Sekarang ini mungkin orang sangat terkesima begini begitu. Berpikirnya mudah, kayak jadi trend seter, gitu. Kalau sekolah rumah, tinggal hati-hati. Saya sendiri belum tentu, memang saya belum tentu. Tapi, saya memang tidak bisa. Kan anak saya dua-duanya di ITB dengan bantuan sekolah formal,” kata Ella.
Mendidik sendiri anak di rumah bukan perkara gampang. Menurut pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Arief Rahman Hakim, orang tua yang ingin menjalankan konsep pendidikan rumah harus memenuhi tiga syarat. Pertama, syarat akademis, yaitu memiliki latar belakang pendidikan yang cukup. Kedua, syarat psikologis, yaitu memiliki jiwa pendidik. Dan terakhir, harus memiliki syarat pedadogis, yaitu keahlian menularkan pengetahuan kepada orang lain. Selain itu, menurut Kepala Lab School di Rawamangun ini, praktisi sekolah rumah juga harus memiliki program pelajaran dan sistem evaluasi yang jelas.
“Saya tidak mengatakan setiap orang itu bisa atau tidak, tapi kalau mau melaksanakan home schooling, ketiga syarat itu harus dipenuhi,” katanya.
Kriteria seperti yang disampaikan Arief Rahman Hakim memang dimiliki Deviana, istri Kak Seto. Menurut Deviana, dia memiliki program yang jelas dan mendidik anaknya berdasarkan kurikulum nasional. Dia juga mengaku menerapkan sistem evaluasi untuk mengukur capaian yang ditempuh kedua putrinya.
“Saya pakai cara saya sendiri. Sudah mengerti apa belum, misalnya, sambil bermain juga kadang mereka buat soal. Oh, mereka sudah mengerti soal ini. Kalau sudah bisa buat soal, berarti sudah mengerti. Jadi, mereka kadang membuat soal. Menyerapnya lebih dari yang diajarkan. Tidak formal pakai angka. Yang penting standarnya sampai, standar kurikulum nasional,” kata istri Seto Mulyadi ini.
Bagi Kak Seto, mempraktekkan sekolah rumah memang tidak gampang. Dia mengingatkan kepada semua orang tua yang akan menjalankan praktek sekolah rumah agar memahami benar makna pendidikan. Walaupun kini banyak kalangan kelas terdidik di Jakarta yang menerapkan sekolah rumah, dia mengingatkan jangan sampai sekolah rumah sekadar menjadi gagah-gagahan.
“Pertama harus memahami makna dari pendidikan. Bukan sekadar menjejalkan beragam informasi atau pelajaran kepada kepala yang seolah-olah kosong. Tapi makna pendidikan adalah justru mengeluarkan atau memberdayakan potensi-potensi unggul yangg dimiliki oleh setiap anak yangg saling berbeda. Kedua, punya komitmen, bahwa ortu yang jadi koordinator dan fasilitator dari kegiatan sekolah rumah. Penaggung jawab adalah tetap ortu. Berarti mempelajari isi kurikulum. Kemudian juga mencoba untuk menjabarkan secara kreatif sesuai dengan kondisi anak-anak yang saling berbeda. Kemudian harus mampu bekerja sama baik dengan anak maupun dengan pihak-pihak lain, termasuk jaringan sekolah rumah,” Kak Seto memberi kiat bagi orang tua yang ingin membuat sekolah rumah.
Sekolah rumah atau home-schooling tampaknya sudah menjadi alternatif di tengah-tengah buruknya sistem pendidikan formal. Beberapa selebritas, seperti Neno Warisman, juga mempraktekkan sekolah rumah untuk anak-anaknya. Dewi Hughes yang belum mempunyai anak tapi peduli pada dunia pendidikan pun tertarik. Mereka bahkan membentuk Asa Pena, asosiasi sekolah rumah, sebagai wadah bertukar informasi sesama praktisi sekolah rumah. (Liza Desylanhi/E2)
Sumber : http://www.vhrmedia.net
Posted on Nov 29, 2007 under HomeSchooling, Rumahku Sekolahku |
Ditengah keraguan terhadap mutu pendidikan nasional, sekaligus mahalnya biaya sekolah berstandar internasional, kini banyak orangtua yang beralih menyekolahkan anak-anaknya di rumah melalui program yang dinamai homeschooling.
Program yang sebenarnya belajar jarak jauh ini materinya disediakan oleh sebuah institusi pendidikan pengelola yang juga akan bertugas menguji para peserta di akhir táhun ajaran yang telah ditentukan untuk kénaikan tingkat atau mendapatkan sertifikat.
Sebenarnya home schooling di Indonesia telah ada sejak dulu, hanya saja dulu namanya berbeda. Belajar jarak jauh semacam e-learning, atau pola pendidikan SMU atau Universitas Terbuka, bahkan Pendidikan Kejar (Kelompok Belajar) Paket A & B itu dapat digolongkan sebagai home schooling. Pada prinsipnya, home schooling ini merupakan pendidikan alternatif dengan menekankan pola kurikulum yang lebih fleksibel dalam pengajarannya.
Hal ini karena awal pembentukan home schooling itu sendiri di Amerika Serikat (AS) merupakan wujud pengawasan preventif orangtua terhadap anak-anaknya karena lembaga sekolah di sana dinilai sudah tidak bisa lagi menjadi lembaga pembelajaran yang sehat. Misalnya - berdasarkan kasus yang sering terjadi- sekolah tidak jarang menjadi ajang perkelahian dan peredaran obat bius. Oleh karena itu para orangtua kemudian berkumpul untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Semula memang dikelola oleh orangtua sendiri, namun selanjutnya berkembang dengan mendatangkan pengajar ke rumah, layaknya model pendidikan anak-anak keluarga bangsawan zaman dulu.
Untuk menerapkan kurikuurn home schooling ini di Indonesia, seharusnya tidak perlu meniru pola pengajaran yang diterapkan di AS karena belum tentu cocok. Dengan difasilitasi pêmerintah, bila nantinya home schooling telah makin diminati di negeri ini, ada baiknya para orangtua membentuk komunitas mandiri yang khusus mengelola pendidikan alternatif ini dengan memasukkan muatan-muatan khusus, misalnya pendidikan untuk mengenal tanah air dan budayanya, pendidikan kesenian, kecintaan membaca, dan lain-lain.
Alasan lain orangtua menerapkan home schooling adalah keinginan untuk memberi kebebasan kepada anak-anak mereka tentang hal-hal yang ingin dipelajari lebih banyak sesuai bakat dan minat masing-masing.
” Biarkan anak-anak bereksplorasi dengan berbagai macam hal. Kelasnya bisa di dapur, halaman belakang, sawah dekat rumah, atau di mana saja, ” begitu ujar salah seorang orangtua yang telah mantap memutuskan untuk memilih home schooling.
Namun home schooling ini tentunya mengandung konsekuensi, yaitu orangtua harus benar-benar mendampingi anak dalam belajar dan bereksplorasi untuk menyerap ilmu. (CHK)
Sumber : Kompas